The Mandalika : Wajah Gres Pantai Kuta Lombok
Mau tahu ibarat apa kondisi pantai kuta lombok tengah beberapa tahun lalu, search aja deh di blog ini, saya udah pernah beberapa kali nulis wacana pantai kuta. Nah Pantai Kuta ini digadang gadang akan dikembangkan menjadi ibarat Nusa Dua di Bali, bahkan dapat dibilang melebihi Nusa Dua, alasannya yaitu akan ada Sirkuit Balap bertaraf internasional (tapi entah kapan, heuheuheu).
Branding Pantai Kuta ketika ini lebih diarahkan ke nama ``Mandalika``, yang diambil dari legenda/cerita rakyat setempat, yang merupakan putri manis bab dari dongeng Bau Nyale yang sudah kesohor itu.
Dengan branding gres ini, pantai kuta berubah total, jaman dulu khan terlihat kumuh dan awut-awutan alasannya yaitu banyak bangunan liar ibarat warung warung, gubug gubug dan terpal terpal biru yang gak jelas. Kini sepanjang pantai sudah dipaving, lebih diutamakan ke pejalan kaki, sedangkan kendaraan beroda empat mobil dan kendaraan lain harus parkir di daerah yang disediakan, harusnya sih hukum ini bener bener dijalan kan ya agar makin oke, alasannya yaitu kemarin masih kulihat beberapa kendaraan parkir sembarangan di jalanan paving yang seharusnya bebas dari parkiran kendaraan, disitupun udah ada tanda dihentikan parkirnya.
Untuk fasilitasnya juga makin lengkap, ada playgorund gratis yang dapat dimanfaatkan anak anak untuk bermain, tapi sayang nya bener bener di area terbuka gitu, jadi jika misal siang hari, dijamin bakal gosong jika main di sini, heuheuheu. Konsepnya sih sepakat ya, kaya di luar negeri, tapi khan di sana hambar jadi ya cocok cocok aja...
Di sebelah goresan pena The Mandalika ada bangunan dengan desain yang unik deh. Ternyata bangunan ini yaitu toilet umum, daerah ganti dan bilas. Bagian dalamnya luas banget dan bersih. Semoga kondisi ini tetap terjaga ya. Di sebelah bangunan ini ada lagi bangunan berupa daerah pengolahan air laut, dan di sebelahnya lagi ada bangunan yang serupa dengan bangunan yang pertama tadi. Untuk dapat memanfaatkan akomodasi umum ini ada tarifnya lho, jadi enggak gratis. Bisa dibayar eksklusif di penjaga yang berseragam khusus.
Di sekitar area paving paving ini ada area berumput yang seharusnya bukan buat pejalan kaki, alias tidak boleh diinjak injak, kaki hanya boleh menginjak paving, tapi ya ibarat sebuah kebudayaan ya, rumputnya gundul gegara diinjak injak, padahal udah ada peringatan nya lho, heuheuheu, pakai bahasa sasak pula.
Setelah puas main di Mandalika ini, kita iseng iseng mengarahkan kendaraan ke area hotel novotel, Waaow, kini kondisinya woke banget, udah dua jalur dan banyak bunderan di setiap persimpangan, ibarat banget jalanan di Nusa Dua. Dan di sekitar sini saya lihat ada proyek besar pembangunan Hotel Royal Tulip dan Hotel Pullman, heuheuheu. Dulu hotel novotel menjadi hotel yang paling glamor di kuta, tahun depan dapat jadi Novotel menjadi hotel yang paling jadul di Kuta.
Untuk urusan ibadah, dibangun juga sebuah masjid yang megah berjulukan Masjid Nurul Bilad yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo, bulan Oktober 2017 lalu, dengan desain atap yang terispirasi dari masjid kuno Bayan Beleq di Lombok Utara. Bangunan dalam masjidnya sih tidak luas banget ya, lebih luas halaman/lapangan di sekitarnya. Woke banget dah ini, sesudah ibadah, kita dapat foto foto sembari jalan ke parkiran :)