Natal : Allah Yang Menjadi Manusia, Mungkinkah?

Hari itu hambar membeku, seolahmenggambarkan bekunya hati seorang laki-laki setengah baya. Ia memandang salju berjatuhan menimpa daun-daun cemara. Sejurus kemudian pandangannya beralih. Lihat! Sekawanan burung gereja terperangkap salju. Sebagian kaku dan beku, lainnya lagi menggigil. 

“Di rumahku ada ruang cukup besar, lengkap dengan penghangat dan makanan,” gumamnya dalam hati, “tapi bagaimana caranya membawa mereka ke dalam rumahku?”

Mulailah laki-laki setengah baya itu memutar otak, mencari akal. “Aha…kenapa tidak saya menggiring mereka perlahan-lahan menuju rumahku?” Kini, ia berjalan mendekati kawanan burung itu. Lalu merentangkan tangannya…dan alih-alih burung itu mau mengikuti kehendaknya, mereka panik dan berusaha kabur.

Dalam kebekuan, hambar mengigil. Sang Pria melangkah ke rumahnya, memandang kembali sebuah ruang cukup besar dengan penghangat ruangan. “Bagaimana caranya membawa mereka masuk? Jelas, makin usang makin banyak yang mati kedinginan!” gerutunya di dalam hati, “mungkinkah dengan membawa kuliner kemudian mengarahkan kuliner ke pintu ruangan ini, mereka mau berjalan dan masuk? Lalu sehabis itu saya sanggup menutupnya dan mereka niscaya aman!

Kali ini, buah pikirannya dilaksanakan. Burung-burung itu semula mau makan biji-biji gandum yang ditebarkannya. Namun, setelah itu mereka bergeming. Tidak mau melangkah! Salju semakin tebal menutupi area itu.

“Tidakkah kalian mengerti, hai burung-burung?” geregetan dan mulai emosi laki-laki ini membayangkan simpulan hidup akan segera melanda mereka, “baiklah, jikalau kalian tidak mau jalan dan masuk menuju rumahku. Kini, saya akan memberi kehangatan di daerah kalian!” Ia melangkah dan membawa kayu bakar. Dibakarnya tumpukan kayu itu. Api mulai menyala memperlihatkan kehangatan. Kali ini kawanan burung itu semakin panik dan mereka bubar!

Pria setengah baya itu geregetan. Ia mengepalkan tangannya, meremas rambutnya. Sudah aneka macam cara ia lakukan namun, burung-burung itu tetap menuju kebinasaan, “Ah, kurang cerdik sekali! Andaikan saja saya sanggup menjelma seekor dari mereka! Aku akan mengatakan, ‘mari saudara-saudaraku…aku punya daerah yang nyaman bagi kalian. Kehangatan, kuliner dan tentunya kalian tidak akan binasa!” Hati beku itu mulai mencari…

“Aha…sekarang saya gres mengerti mengapa Allah mau menjadi insan dan membisu di antara manusia!”

Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman simpulan ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya…”(Ibrani 1:1,2a)

Andaikan kita ialah salah seekor dari burung yang selamat berada dalam ruang hangat dan banyak makanan, apa yang akan kita lakukan di sana?

Memilih menikmati kenyamanan itu dan berebut posisi yang paling nyaman? Sementara di luar masih banyak kawanan burung yang menanti kebinasaan. Selamat merayakan Natal!
Sumber https://nananggki.blogspot.com/

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel