Terang Yang Memberi Hidup

Hoaks, berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah sering dipahami sebagai gosip bohong, gosip tidak bersumber. Hoaks merupakan rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, namun “dijual” sebagai kebenaran (Silverman, Craig.2015). Hoaks sanggup menjadikan kekacauan bahkan berpotensi menghancurkan sebuah peradaban bangsa. Namun, meskipun insan telah tahu dan mengerti pengaruh jelek dari hoaks, tetap saja menggandrunginya. 

Kebalikan dari hoaks ialah gosip benar berdasar fakta dan data. Dengan sumber kebenaran maka kita bisa menghasilkan karya yang baik, mempunyai kegunaan bagi kehidupan. Berita menyesatkan berujung pada kekacauan dan bencana, sebaliknya kebenaran mengantar kita pada segala sesuatu yang baik.

Natal ialah ketika Allah menyatakan kebenaran di dalam Kristus; Sang Firman yang hidup! “Pada mulanya ialah Firman;…”, demikian Yohanes memulai Injilnya. Kalimat pembuka ini mengingatkan para pembacanya kepada awal mula penciptaan yang dimulai dengan, “Pada mulanya…”(Kejadian 1:1). Meskipun demikian ada yang berbeda. Yohanes 1:1 tidak mengenai awal mula karya penciptaan Allah, namun berbicara wacana eksistensi Firman yang kekal.

Yohanes, tidak menyerupai Matius dan Lukas yang mengisahkan kelahiran Yesus sebagai bayi mungil yang lahir dari keluarga sederhana, Maria dan Yusuf. Yohanes menyatakan eksistensi Yesus yang ialah Sang Firman itu. Ho Logos, sebutan untuk Yesus hanya ada dalam prolog Yohanes (Yoh.1:1, 14). Yesus ialah Firman Allah, penjelmaanlogos ilahi. Sebutan logos;Firman tentu berkaitan dengan tugas yang diemban Yesus selama hidup-Nya. Gelar ini memperkenalkan Anak sebagai media “komunikasi diri” Allah. Ia ialah Sabda yang dengannya Allah menyatakan diri kepada dunia. Apakah tidak cukup Allah menggunakan para nabi-Nya untuk menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya kepada dunia? Bukankah, terlalu glamor kalua Allah sendiri yang harus turun dan berkembang menjadi menjadi manusia? Dalam hal ini kita sanggup meminjam catatan dari Surat Ibrani, “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman selesai ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia menetapkan sebagai yang berhak mendapatkan segala yang ada. Oleh Dia, Allah telah menjadikan alam semesta. Ia ialah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan….”(Ibr.1:1-3).

Dengan tetap menaruh hormat pada tugas para nabi – meskipun ada juga nabi-nabi hoaks - kita sanggup melihat dari sudut pandang Allah. Allah telah begitu rupa dengan kesabaran-Nya mengutus begitu banyak nabi. Bahkan, tidak hanya itu, Allah juga berbicara dengan banyak sekali cara, rupanya tetap saja insan tidak mengindahkan apa yang sudah Allah prakarsai itu. Kini, untuk menyempurnakannya, Ia sendiri menyatakan diri-Nya melalui kehadiran “Sang Anak” atau “Sang Sabda” itu. Maksudnya tidak lain semoga insan benar-benar sanggup memahami dan mangalami Sang Sabda itu. Manusia dimudahkan untuk mengerti kehendak Allah. Mengapa? Karena Firman itu dikatakan menjadi daging(ay.14a, ho logos sarx egeneto). 

Di dalam Kristus, Firman itu tidak menjauhi dunia jasmani; “Firman itu telah menjadi manusia, dan membisu di antara kita, (eskenosen en hemin)…”Kata kerja “berkediaman” (harafiah: berkemah, mendirikan tenda) ini mengingatkan orang akan Allah yang berkemah di antara umat-Nya di padang gurun (Keluaran 25-40), dan yang dinubuatkan kembali berkemah di tengah-tengah umat-Nya di Sion (Yoel 3:17; Za.2:10), dalam Bait Allah yang gres (Yeh.43:7). Nubuat akan kehadiran Allah itu sekarang dipenuhi dalam Yesus yang ialah kediaman Allah yang “baru” itu, mengganti yang usang (Yoh.2:21). Di dalam insan Yesus sebagai Firman Allah hadir secara utuh. Kemuliaan dan kasih setia Allah tampak di bumi dan membumi. Yesus sebagai Firman Allah yang menjadi insan ialah jalan yang gres dan paling tepat bagi Allah untuk mengungkapkan diri-Nya kepada umat manusia.

Dalam kerangka inilah Yesus mencerminkan dan mengungkapkan siapakah Bapa itu. Di satu sisi Firman (Anak) tidak disamakan dengan Allah Bapa (tidak identik dengan Bapa); di sisi lain, Ia juga tidak dipandang sebagai Allah yang lain di samping Allah Bapa. Ia sanggup dipuja sebagai Allah sebab menyatakan Allah yang Esa secara sempurna. Lepas dari Yesus, tidak seorang pun pernah melihat Allah Bapa. Dalam Yesus – sebagai Firman yang telah menjadi manusia, Allah menjadi kasatmata dan sanggup dilihat oleh manusia. Karena menyatakan Allah Bapa sepenuhnya, Yesus sendiri pun disebut Allah.

Di dalam Yesus Kristus, insan sanggup dengan terang-benderang melihat Bapa. Bapa yang sebelumnya dipahami begitu jauh, sekarang bukan saja sanggup dilihat, melainkan sanggup disentuh! Dengan demikian Yesus Kristus ialah Terang dunia. Yesus Sang Firman itu bukan hanya sumber hidup dalam arti biasa melainkan hidup yang mempunyai eksistensi bermakna mulia (zoe).

Hidup, dalam Bahasa Yohanes berarti juga “keselamatan” dan sama dengan “hidup kekal”. Hidupadalah eksistensi sejati manusia. Maka hidup itu sanggup disebut terang(phos), kata lain hidup sejati, hidup bagi mereka yang berada dalam hubungan dengan Bapa sebagai anak-anak-Nya. Namun demikian, ternyata tidak semua orang menyambut Sang Terang ;Sang Sabda yang menjadi Manusia itu. Mereka tetap menentukan untuk tidak mengenalnya, “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.”(Yoh.1:10).

Tujuan dari kedatangan Sang Firman; Terang dunia ialah untuk menerangi setiap orang; setiap kehidupan dengan kasih yang kuasa dan dengan demikian membangun kembali hubungan yang benar dengan Allah. Namun ironisnya, insan tetap buta. Terang itu ditolak, baik dalam bentuknya sebagai kehadiran Allah dalam tata ciptaan, maupun sebagai pewahyuan dalam sejarah Israel. Menolak dalam tata ciptaan; yang semula diciptakan sungguh amat baik. Namun telah menjadi porak-poranda oleh keserakahan manusia. Penolakan dalam sejarah Israel terwujud dalam penyingkiran, penganiayaan dan pembunuhan-Nya di kayu salib. Penolakan masa sekarang dengan cara membungkam dan menolak anutan serta teladan-Nya.

Namun, kepada mereka yang percayadan menyambut Sang Terang itu, Ia memberi kuasa(exousia) – semacam otoritas (hak) – untuk menjadi bawah umur Allah.Orang-orang Israel yang percaya tahu bahwa kuasa itulah yang akan menjadikan mereka bawah umur Allah. Manusia – dengan upaya dan kuasanya sendiri – tidak bisa menjadi apa yang merupakan tujuannya dan harus semata-mata bergantung pada kekuatan adikodrati.

Terang itu telah tiba di dalam diri Yesus Kristus. Terang itu menunjukkan kehidupan sebab memulihkan hubungan dengan Sang Sumber hidup sesungguhnya, yakni Bapa sendiri. Kini, bagaimana kita menyambut Terang itu? Apakah kita menjadi kepingan dari kelompok orang yang menolak-Nya? Ataukah kita bersedia menyambut-Nya? Terang itu bisa hadir di hati kita. Ia menyuarakan kebenaran, bagaimana kita meresponnya. 

Socrates, seorang bijaksana dan suci yang hidup pada zaman Yunani kuno. Ia pernah menyampaikan akan menentukan untuk mati seribu kali dari pada tidak taat kepada Allah, yang menyatakan diri-Nya dalam jelas hati nuraninya dan dalam kerinduannya akan kebenaran. Apakah kita menyerupai Socrates dalam menyambut Sang Terang? Gigih berjuang semoga Sang Terang itu tetap bersinar di dalam hati. Ataukah kita larut dalam musim dunia ini?Tidak peduli lagi dengan bunyi kebenaran! Natal sejatinya ialah ketika kita berbenah diri. Natal seharusnya bukan Yesus yang lahir di palungan, melainkan Dia lahir, ada dan bertakhta di hati ini. Dengan demikian Natal ialah momentum Sang Terang yang memberi kehidupan!

Selamat Natal, 25 Desember 2018
Sumber https://nananggki.blogspot.com/

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel