Menyongsong Tahun Gres Sebagai Belum Dewasa Allah

Mujizat dan berkat sepertinya tidak pernah lekang dicari orang. Sampai hari ini, tema-tema khotbah atau lebih tepatnya KKR banyak memberikan dan menyajikan mujizat dan berkat. Ada mujizat kesembuhan, pemulihan keluarga, berkat usaha, kesuksesan, umur panjang dan sebagainya. Tentu bukan sesuatu yang keliru kalau orang mengharapkan hidup penuh mujizat dan diberkati. Bukankah dambaan setiap orang bila kantong tebal, tubuh sehat, pikiran waras dan punya banyak relasi? Namun, yang sering dilupakan yaitu proses dalam mendapatkan itu semua. Ada yang menekuni dengan berjerih lelah sambil menjaga ketaatan kepada Tuhan. Sebaliknya, tidak sedikit yang hanya mengandalkan doa dan KKR dan dalam sekejap segalanya sanggup berubah sesuai dengan yang dikehendakinya.

Dalam Perjanjian Lama, sumber berkat yaitu Allah sendiri. Berkat Allah secara spesifik digambarkan dengan menganugerahkan keturunan yang akan menjadi bangsa yang besar dan kuat, kekayaan, tanah, kesehatan, dan kehadiran di tengah-tengah umat-Nya. Mereka yang berada "dekat" dengan Allah akan dilindungi. Berkat Tuhan memberikan citra wacana apa yang paling diharapkan oleh manusia, yakni suasana penuh dukungan dan keamanan, kasih karunia, dan tenang sejahtera, juga citra kasih Allah yang semakin usang semakin dalam.  Sayangnya, insan cenderung bersahabat dengan Allah hanya alasannya yaitu ingin berkat dan mujizat-Nya. Akibatnya, Sang Pemberi berkat sering terabaikan. Orang menjadi lupa apa yang harus dilakukan  terhadap Sang Pemberi berkat itu.

Dalam Perjanjian Lama, secara khusus Allah telah memerintahkan Musa semoga Harun dan keturunannya sebagai imam memberikan berkat-Nya. Dari sisi ini sangatlah terperinci bahwa tidak usah diminta pun TUHAN menjamin berkat bagi umat-Nya. Ucapan berkat imam yang tercatat dalam Bilangan 6:24,25 terdiri dari tiga bagian. Pertama-tama, "TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau." DI sini tergambar bahwa Allah memelihara dan menjamin umat-Nya dengan penuh, baik apa yang diharapkan untuk keperluan kehidupan mereka maupun dukungan dari segala sesuatu yang jahat. Kedua, "TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia." Ini menyiratkan tanda bahwa TUHAN berkenan atas diri seseorang. Dengan demikian orang itu boleh merasa yakin bahwa Allah akan mendengar doa-doanya dan menyelamatkan beliau dari musuh, penyakit dan dosa. Tidak ada satu pun kekuatan jahat yang tahan berhadapan dengan "SInar Wajah Allah". Berkat ketiga, "TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau tenang sejahtera." Ini menyatakan manifestasi kuasa yang memelihara insan untuk menjaganya dalam keadaan tenang sehjatera, hidup dalam syalom Allah. Ketika Allah berkenan memandang seseorang, hal itu berarti Ia berkenan atas orang itu dan akan menyelamatkan beliau dari segala kesukaran (bnd. Mzm.33:18; 34:16).

Dalam Perjanjian Lama, berkat TUHAN tidak sanggup dipisahkan dari ketaatan insan kepada-Nya. Artinya, berkat itu akan "mengalir" dalam kehidupan seseorang bila orang tersebut berlaku setia terhadap Allah. Sebagai tanda kesetiaan, umat mau dengan sukacita hidup dalam hukum-hukum-Nya. Allah telah melengkapi umat itu dengan Taurat, semoga dengannya mereka mencar ilmu taat dan setia. Dahulu sekali, sebelum Taurat diberikan TUHAN kepada umat-Nya, sunat merupakan tanda dari ikatan perjanjian itu. Abram mendapatkan janji-janji berkat dari TUHAN, semenjak ketika itu namanya menjadi Abraham dan lalu ia diperintahkan untuk disunat. Selanjutnya, setiap anak pria yang berumur delapan hari dari keturunannya bebuyutan harus disunat (Kejadian 17:1-27). Itulah tanda kesetiaan dari orang yang kepadanya Allah mengikat janji.

Ketaatan keturunan Abraham ini masih terlacak hingga orang renta Yesus; Yusuf dan Maria. Mereka menyunat dan memberi nama Anak mereka Yesus pada usia delapan hari (Lukas 2:21). Peristiwa ini menunjukan bahwa inkarnasi: Firman yang menjadi Manusia itu total, tidak setengah-setengah. Yesus masuk menembus tradisi dan ketaatan insan dalam ikatan perjanjian berkat dengan Allah. Dalam diri Yesus, Allah bukan hanya berada di antara manusia, melainkan benar-benar menjadi seorang manusia. Dalam penyunatan ini, Yesus Kristus mengidentifikasikan diri-Nya dengan umat insan yang ditebus-Nya.

Lukas mengisahkan sunat Yesus dari sudut pandang seorang bukan Yahudi kepada seorang bukan Yahudi (dalam hal ini Teofilus), ceritanya, "sesudah delapan hari anak yang berjulukan Yesus itu disunat, dan setelah empat puluh hari, ia dibawa ke dalam Bait Suci sebagai tanda bahwa Ia diserahkan kepada TUHAN Allah. Andaikata Lukas menulis untuk orang-orang Yahudi, mungkin saja penjelasannya menyerupai ini,"upacara tradisi itu menunjukkan bahwa Yesus takluk kepada aturan Taurat." Sejak permulaan Dia telah memenuhi segala ketetapan  Taurat dan dengan demikian telah membebaskan kita dari Taurat itu (Galatia 4:4-5). Di dalam Surat Galatia ini, Paulus menyebutkan bahwa Yesus Kristus takluk kepada Hukum Taurat untuk "menebus mereka yang takluk kepada aturan Taurat." Hasil dari karya penebusan ini pun disebutkan dengan jelas; "kita diterima menjadi anak" (Gal.4:5b) dan sanggup berseru kepada Allah, "ya Abba, ya Bapa" (Gal.4:6). Artinya, di dalam Yesus kita sanggup melihat ketaatan-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa yang berdampak tidak hanya memulihkan hubungan, melainkan lebih dalam, yakni korelasi yang sangat bersahabat (anak-Bapa). Sekaligus juga memberikan pola dan teladan wacana ketaatan itu.

Di dalam Yesus Kristus kita menyapa Allah sebagai Bapa. Hal ini menunjukan bahwa kita yaitu anak-anak-Nya. Ya, bawah umur TUHAN! Lalu, apakah cukup hanya sekedar legalisasi dogmatis saja? Status anak bukan hanya penanda bahwa kita yaitu pewaris segala kasih karunia-Nya. Melainkan, sebuah identitas yang menyiratkan ketaatan dan kesetiaan. Percuma saja kita mengaku dan yakin sebagai bawah umur TUHAN apabila tutur kata dan prilaku kita jauh dari apa yang dikehendaki Bapa! Tidak ada gunanya aksesori anak TUHAN kalau iri, dengki, sombong dan besar kepala masih mewarnai kehidupan kita!

Dalam menyongsong tahun baru, terperinci ada banyak tantangan. Namun, tidak sedikit juga harapan. Ya, impian akan berkat-berkat TUHAN. Sejak dari zaman Perjanjian Lama, Allah telah menjamin berkat bagi kehidupan manusia. Berkat itu telah ada sebelum kita memintanya. Kini, giliran kita yang harus hidup penuh komitmen sebagai bawah umur Allah. Anak-anak yang semakin hari semakin banyak kemiripannya dengan Sang Bapa yang dicontohkan oleh Yesus Kristus. Permulaan tahun gres yaitu ketika yang sempurna untuk kita menciptakan komitmen dan resolusi semoga hidup sebagai bawah umur TUHAN lebih baik lagi. Songsonglah tahun gres dengan optimis sebagai bawah umur Allah! 

Jakarta,  jelang Tahun Baru 2018
Sumber https://nananggki.blogspot.com/

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel