Bebuah Berlipat Ganda
Seorang petani tentu berharap kelak apa yang ditaburnya akan memanen hasil yang baik. Berlipat ganda! Maka ia akan mengerahkan pelbagai kemampuannya, mulai dari menyiapkan lahan. Tanah harus dibajak atau dicangkul biar gembur, diberi pupuk dan memastikan ketersediaan air. Kemudian pemilihan benih dan pembibitan. Lalu sesudah itu pemeliharaan serius dengan pemupukan dan pengendalian hama. Kaprikornus terang sang petani tidak sekedar asal tabur benih dan kemudian berpangku tangan kemudian mengharapkan hasil yang baik.
Ketika Yesus menggunakan perumpamaan menggunakan dongeng rujukan petani yang menaburkan benih (Matius 13:1-9), tentu di dalamnya juga berlaku keseriusan sang penabur dalam menyiapkan tanah garapan, pemeliharaan dan pelbagai kerja keras untuk kelak sanggup memanen hasil berlipat ganda. Namun tidak menutup kemungkinan ada benih yang jatuh tidak pada daerah yang seharusnya, yakni tanah yang sudah disiapkan. Logikanya, tidaklah mungkin si petani menabur di pinggir jalan, bebatuan atau di semak duri. Cerita ini dibentuk kontras biar maksud yang sesungguhnya sanggup dipahami oleh para pendengarnya. Selain itu, petani di Galilea tidak menabur benih di daerah penyemaian kemudian memindahkan bibit ke ladang, tetapi pribadi menaburkan benih di tangan ke ladang yang sudah disiapkannya itu.
Dalam perumpamaan ini, benih-benih yang jatuh pada daerah yang tidak semestinya, yakni di tiga penggalan tanah yang tidak menghasilkan dipertentangkan dengan benih yang jatuh di tanah yang baik dan akhirnya menghasilkan buah. Benih yang jatuh di daerah yang baik itu berbuah ada yang seratus kali, ada yang enam puluh kali, dan ada yang tiga puluh kali lipat. Sebaliknya, benih yang jatuh di tempat-tempat yang tidak sempurna sudah tentu tidak menghasilkan apa-apa!
Dalam Alkitab Markus 4:10 murid-murid Yesus bertanya wacana makna perumpamaan yang disampaikan Yesus itu. Namun dalam Alkitab Matius sedikit berbeda, “Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?” (Mat.13:10). Yang dipertanyakan para murid yaitu mengapa seakan-akan Yesus merahasiakan maksud yang bergotong-royong dari perumpamaan itu. Hal ini masih terkait dengan pasal-pasal sebelumnya, yakni penolakan orang-orang Yahudi, khususnya kaum Farisi yang disebut kaum berhikmat dan pandai. Namun, justru hikmat dan kepandaian mereka menghalangi melihat Yesus sebagai Mesias.
Jawaban Yesus atas pertanyaan para murid itu berlapis-lapis, dari sebuah fatwa penghiburan bagi para murid; bahwa mereka diberi kesempatan untuk mengetahui rahasia-rahasia Kerajaan Surga, sedangkan orang Yahudi lainnya tidak diberi (Matius 11:25-27, 16-17). Yang dimaksud belakang layar Kerajaan Allah yaitu seluruh rencana evakuasi Allah melalui Yesus Kristus.
Jurang pemisah antara orang-orang Yahudi yang menolak Yesus – yang kepada mereka tidak diberi belakang layar Kerajaan Surga – dengan mereka yang menyambut-Nya, yakni para murid, akhirnya dijawab dengan alasan: alasannya yaitu mereka tidak melihat, mendengar dan mengerti. Kata-kata ini terang mengacu pada Yesaya 6:9-10, “Kamu akan mendengar dan mendengar namun tidak mengerti, kau akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya menempel tertutup; supaya mereka jangan melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, kemudian berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.”
Sebegitu teganyakah Allah menutup rapat-rapat pintu pertobatan, menguncinya biar mereka binasa? Sepintas mungkin kita menganggapnya menyerupai itu. Namun, jikalau kita menelisik kalimat Yesaya ini maka kita akan memahami mengapa Allah begitu serius untuk menciptakan mereka tidak lagi mendengar, melihat, dan memahami. Sebelum datang pada kalimat “...supaya mereka jangan melihat..., jangan mendengar,...dan mengerti dengan hatinya, kemudian berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.” Ada kalimat, “Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya menempel tertutup...” Jelaslah bahwa mereka terlebih dahulu menutup kasih karunia Allah!
Dalam klarifikasi wacana perumpamaan sang penabur, Alkitab Matius menekankan wacana cara masing-masing orang dalam mendengar gosip wacana Kerajaan Allah. Jelaslah bahwa mengetahui belakang layar Kerajaan Allah itu (sama menyerupai penabur yang menaburkan benih) merupakan kasih karunia Allah sendiri. Tetapi insan (seperti daerah benih mendarat) sanggup menyia-nyiakan bahkan menolak kasih karunia Allah itu. Disebutkan ada tiga macam orang yang tidak menyambut firman dengan baik.
Ada yang mendapatkan firman itu dengan antusias, namun pada awalnya saja mereka menggebu-gebu tetapi tidak mau berakar kesudahannya tidak bertahan ketika ada pelbagai pencobaan mereka cepat beralih. Ada yang membiarkan firman yang sudah diterima, tetapi kemudian didesak oleh kecemasan akan kebutuhan hidup atau godaan kekayaan. Mereka semuanya tidak menghasilkan buah.
Alkitab Matius fokus pada masalah, mengapa ada banyak orang yang mendengar Alkitab namun tidak berbuah. Hal ini terjadi alasannya yaitu orang yang mendengar Alkitab tidak menangkapnya dengan hati, tidak membuatnya berakar mendalam sehingga hilang lenyap sebelum menghasilkan buah.
Benar Alkitab Kerajaan Surga itu semata-mata yaitu anugerah Allah. Allah yang penuh kasih itu telah melaksanakan pelbagai cara biar insan melihat, mendengar dan mengerti. Kini, giliran insan itu yang harus menyiapkan “tanah” yang baik dan perawatan yang optimal sehingga benih itu bukan saja sanggup tumbuh, melainkan pada ujungnya menghasilkan buah yang banyak. Nah, apakah kini ini kita juga sudah menjadi “petani” yang baik, yang menyiapkan tanah dengan sungguh-sungguh dan sekuat tenaga merawatnya dengan baik?
Datang tidak terlambat dalam setiap program ibadah dan pembinaan, menyiapkan suasana hati dan mengalokasikan waktu dalam bersaat teduh merupakan satu cara kita dalam menyiapkan “lahan” yakni hati kita untuk ditaburi firman Allah. Ingat petani harus mencangkul dan memberi pupuk awal pada tanah biar tanah itu gembur dan subur. Hal serupa harus kita lakukan dengan hati kita. Selanjutnya – menyerupai sang petani memelihara tanamannya – kita pun wajib memeliharanya, yakni dengan terus berlatih menjadi pelaku firman, tekun dalam komplotan dan tidak gampang mengalah dengan pelbagai tantangan hidup.
Buah itu bukan saja kehidupan awet dalam Kerajaan Surga, penghiburan dan kekuatan bagi bawah umur Allah, tetapi juga akan tampak dalam kehidupan ini yakni dalam perubahan hidup sebagai murid-murid Kristus yang mengutamakan kehendak Allah dalam kehidupan mereka. Dengan demikian menghasilkan kesaksian bagi orang-orang di sekitarnya. Dengan begitu, menghasilkan buah kesaksian yakni orang lain sanggup mengenal kasih Allah melalui Yesus Kristus.
Batu – Malang, 14 Juli 2017
Sumber https://nananggki.blogspot.com/